Skip to main content

Lee Chong Wei vs Lin Dan, sebuah persaingan abadi.


Bulutangkis adalah olahraga yang tak asing lagi di telinga rakyat Indonesia. Cabang olahraga inilah yang telah memberikan banyak sekali prestasi-prestasi untuk negara ini, dari ranah nasional hingga internasional. Indonesia pun turut menyumbang banyak sekali atlet-atlet hebat di tingkat internasional, diantaranya adalah Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon yang sangat dikenal di Indonesia bahkan dikenal di dunia. Dibalik banyaknya pertandingan bulutangkis, ternyata ada sebuah persaingan yang mungkin tak banyak orang tahu. Persaingan tersebut adalah persaingan antara Lee Chong Wei melawan Lin Dan.


Lee Chong Wei adalah seorang atlet bulutangkis cabang tunggal putra kebanggaan negeri jiran Malaysia. Pemain yang sering disapa Lee ini lahir di George Town, Penang, Malaysia, pada tahun 1982. Lee pertama kali mengikuti turnamen kelas internasional pada tahun 2002, dan meraih medali pertamanya di ajang Malaysia Open di tahun 2003. Di samping itu, Lee pernah meraih berbagai medali seperti di ajang, Indonesia Open, Hong Kong Open, Japan Open, dan berbagai ajang internasional lainnya. Selama karirnya, ia telah memenangkan 713 dari 848 pertandingan, dan telah meraih 69 gelar.


Sedangkan, Lin Dan adalah seorang atlet berprestasi dari negeri bambu Tiongkok. Lin lahir di Longyan, Fujian, Tiongkok, pada tahun 1983. Pada usia 28 tahun, Lin telah meraih sembilan gelar utama bulutangkis, diantaranya, Olimpiade, Kejuaraan Dunia, Thomas Cup, All England, dan 5 gelar utama lainnya. Karena kehebatannya, ia dijuluki “Super Dan” oleh lawannya, Peter Gade. Hingga saat ini, Lin telah memenangkan 654 pertandingan dan mengantungi 66 gelar kelas internasional.

Persaingan keduanya bermulai kala Lee Chong Wei bertemu dengan Lin Dan di ajang TUC Asia Preliminaries pada tahun 2004, kala itu Lee harus mengakui kekalahannya dengan skor: 3-15, 15-3, dan 15-6. Selama karir keduanya, Lee pernah bertemu dengan Lin Dan sebanyak 37 kali pertemuan dan 11 diantaranya dimenangkan olehnya. Diantara pertemuan-pertemuan keduanya, yang paling berkesan adalah ketika keduanya bertemu di babak final ajang Olimpiade pada tahun 2008 di Tiongkok. Kala itu, Lin Dan selaku tuan rumah mengalahkan Lee yang merupakan pendatang dengan skor: 21-12 dan 21-8. Lagi-lagi, keduanya bertemu lagi di ajang yang sama di tahun 2012 yang diselengarakan di Inggris. Dan, untuk kedua kalinya, Lee harus mengubur dalam-dalam mimpi dan impiannya untuk memenangkan sebuah medali emas untuk Malaysia setelah dikalahkan oleh Lin Dan dengan skor: 21-15, 10-21, dan 19-21.

Keduanya pun bertemu untuk terakhir kalinya di babak final ajang All England di tahun 2018. Dan lagi-lagi, Lee harus kalah oleh Lin Dan dengan skor: 21-16 dan 21-17. Pada bulan Juli tahun 2018, tepatnya empat bulan setelah kekalahannya di ajang All England, Lee didiagnosa terkena penyakit Kanker Hidung (Nasal Cancer), sehingga ia memutuskan untuk beristirahat dan vakum dari dunia perbulutangkisan. Setelah melakukan banyak operasi di Taiwan, Lee pun memutuskan untuk gantung raket di bulan Juni tahun 2019. Penyakitnya memang telah disembuhkan, namun masih ada resiko kambuh lagi jika Lee mengikuti latihan rutin yang dapat dikatakan berat. Di penuhi dengan tangisan, Lee mengaku masih ingin memberikan sebuah medali emas untuk Malaysia  di ajang Olimpiade pada tahun 2020, namun apa yang dapat dibuat olehnya, jika ia masih nekat latihan berat, maka ada kemungkinan penyakit yang ia idap akan kambuh kembali. Walau Lee telah pensiun, persaingan keduanya akan selalu abadi dalam sejarah perbulutangkisan dunia.



Comments